Pada postingan kali ini, saya akan menulis mengenai apakah investasi itu adalah sebuah keinginan ataukah sudah menjadi sebuah kebutuhan. Postingan ini juga dapat menjawab pertanyaan mengenai kenapa kita harus berinvestasi.

Investasi sebagai sebuah keinginan adalah paradigma orang-orang dahulu. Mungkin masih menjadi paradigma orang-orang sekarang dan orang-orang kebanyakan. Yang dimaksud investasi sebagai sebuah keinginan adalah ketika ada kelebihan uang, uang tersebut akan condong disimpan saja di tabungan, bisa dibawah bantal, celengan ayam (masih ada gak ya?), atau di bank, daripada digunakan untuk kepentingan investasi. Uang itu baru digunakan untuk kepentingan investasi ketika si pemiliknya memang ada keinginan untuk menyalurkannya ke instrumen investasi. Dan menurut saya, hal ini tidak benar. Hal ini bisa terjadi karena tidak semua orang mengerti akan pentingnya investasi.

Sehingga jika diformulasikan adalah sebagai berikut:

Pendapatan – konsumsi = tabungan

Investasi sebagai sebuah kebutuhan harus menjadi paradigma kita sekarang. Yang dimaksud dari investasi sebagai sebuah kebutuhan adalah kebalikan dari investasi sebagai sebuah keinginan. Mudahnya, jika ada kelebihan uang, akan condong digunakan untuk investasi daripada ditabung saja. Alasannya kenapa? Nanti akan saya bahas.

Jadi jika diformulasikan ada beberapa formula:

Pendapatan – konsumsi = investasi + tabungan

Pendapatan – konsumsi = investasi

Pendapatan – investasi = konsumsi + tabungan

Apa perbedaan dari ketiga formula di atas? Lebih baik yang mana? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan saya bahas di postingan yang terpisah. Sabar yaa…ūüėÄ

Nah In My Humble Opinion (IMHO) aka menurut saya, paradigma inilah yang seharusnya kita gunakan di kehidupan kita. Yups, investasi sudah menjadi kebutuhan kita. kenapa? Ada beberapa alasan. Diantaranya adalah:

1. Adanya kelebihan uang yang tidak terpakai untuk dikonsumsi saat itu juga.

Kelebihan uang ini bisa disengaja untuk disisihkan, atau memang tidak sengaja, walaupun sudah jor-joran digunakan tapi tetap bersisa (uang dari penghasilannya udah kebanyakan).

2. Adanya kebutuhan yang harus dipenuhi dimasa yang akan datang.

Sebagai manusia kita tentu punya kebutuhan, baik di masa sekarang ataupun di masa yang akan datang yang harus dipenuhi. Sebagai contoh adalah menikah 3 tahun lagi, membeli rumah 4 tahun lagi, yang dananya harus dikumpulkan mulai dari sekarang.

3. Adanya inflasi

Gampangnya, inflasi adalah kenaikan harga. Untuk memudahkan, saya akan memberikan contoh. Ketika bulan ini kita makan di Sate Padang menghabiskan Rp. 15,000, kemudian bulan berikutnya makan sate padang ditempat yang sama kita harus membayar sebesar Rp. 16,000, maka telah terjadi kenaikan harga sate padang tersebut. Dengan kata lain uang sebesar Rp. 15,000 yang bulan lalu cukup untuk makan ternyata bulan ini tidak cukup. Telah terjadi kenaikan harga sate. Atau dilihat dari sudut pandang lain, telah terjadi penurunan nilai uang.

Contoh lainnya adalah, sebut saja mawar, berencana untuk membeli rumah 3 tahun lagi di BSD yang saat ini berharga 1M. Selama tiga tahun itu mawar mengumpulkan uang dengan cara menabung mati-matian tiap bulannya senilai 1M:3tahun:12 = Rp27.777.778 (entah si mawar kerjanya apa bisa nabung segitu perbulannya :D). Ketika tiba tahun ketiga, si mawar ternyata tetap tidak bisa membeli rumah tersebut walaupun telah terkumpul uang senilai 1M karena ternyata harga rumahnya telah naik menjadi Rp 2,5M. Yups, harga rumah tersebut telah mengalami inflasi.

Inflasi adalah alasan yang sangat tepat kenapa kita harus berinvestasi.

4. Pertumbuhan uang di tabungan konvensional / syariah kalah dari inflasi

Inflasi pulalah yang menjadi penyebab uang ditabungan “digerogoti” sedikit demi sedikit.

===============================================================

Itulah beberapa alasan kenapa kita sebenarnya butuh berinvestasi tidak sekedar ingin saja.

Sekarang pertanyaannya adalah kemana saja kita bisa berinvestasi? apa saja instrumen investasi? Tunggu informasinya di postingan berikutnya.