Judul yang saya angkat untuk postingan ini adalah sebuah sinisme. Ya sinisme. Saya pilih judul itu untuk menyindir orang tersebut sekaligus sebagai daya tarik dari tulisan saya ini.

Tujuan saya menulis postingan ini adalah mencoba men-share hasil kajian via internet dan beberapa rekan mengenai kejadian terbaru di dunia persepakbolaan Indonesia yaitu diumumkannya hasil verifikasi balon ketua PSSI. Dari pengumuman tersebut, diketahui bahwasanya tokoh yang lolos verifikasi hanya 2 orang dari 4, yaitu Nurdin Halid dan Nirwan D Bakrie. Sedangkan George Toisutta dan Arifin Panigoro tidak lolos.

Banyak yang mengira bahwa PSSI telah melanggar statuta FIFA dengan hasil tersebut. Hal ini cukup logis karena Nurdin Halid termasuk dalam salah satu dari 2 orang yang lolos verifikasi. Padahal jelas pada Pasal 32 ayat 4 Statuta FIFA jelas tertera sebagai berikut:

“The members of the Executive Committee shall be no older than … [age to be completed by the Association] and no younger than … [age to be completed by the Association]. They shall have already been active in football, must not have been previously found guilty of a criminal offence and have residency within the territory of X.”

Jika masih ada yang bingung, coba cermati kalimat berikut:

“…must not have been previously found guilty of a criminal offence and have residency within the territory of X.”

Disitu jelas tertulis bahwa calon ketua tidak boleh sebelumnya terbukti bersalah atas suatu tindak kriminalitas. Dan calon kita satu itu yang bernama Nurdin Halid, pernah terbukti bersalah, pada 13 Agustus 2007, Ia kembali divonis dua tahun penjara akibat tindak pidana korupsi dalam pengadaan minyak goreng setelah kasus-kasus sebelumnya. Untuk lebih jelasnya mengenai hal ini dapat dibaca disini.

Jelas kan?! PSSI melanggar statuta FIFA.

Tunggu dulu, justru disitu lihainya ketua PSSI kita satu itu. Agar lebih jelasnya, sebelumnya saya harus menjelaskan satu hal. Statuta FIFA adalah statuta yang bersifat general, sehingga harus diterjemahkan masing-masing organisasi terkait sesuai dengan negaranya. FIFA mendorong hal itu. Sehingga PSSI pun harus membuat statuta yang sesuai dengan kondisi di negara Indonesia. Maka lahirlah statuta yang mari kita namakan statuta PSSI.

Ya, disinilah kunci emas yang dipegang oleh Nurdin Halid. Pada periode kepemimpinannya, digelarlah Musyawarah Nasional Luar Biasa PSSI untuk mengesahkan Statuta PSSI yang telah diratifikasi FIFA. Munaslub ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum PSSI H.A.M Nurdin Halid ini dihadiri oleh 514 peserta. Dan, disaksikan langsung oleh utusan FIFA, Thierry Regenass, Direktur Member Association & Development FIFA. Setelah munaslub ini berakhir, lahirlah statuta-penyelamat-penjamin-langgengnya-tampuk-kekuasaan-ketua-PSSI-yang-berkuasa-saat-itu.

Ya benar statuta PSSI diturunkan dari statuta FIFA. Tapi terdapat sedikit perubahan. Dan perubahan tersebut lah yang memberi dampak luar biasa. Ingat bunyi statuta PSSI yang telah saya kutip di atas? Untuk mengingatkan dan saya tidak bosan untuk mengutipnya, berikut bunyi pasal yang saya maksud:

“The members of the Executive Committee shall be no older than … [age to be completed by the Association] and no younger than … [age to be completed by the Association]. They shall have already been active in football, must not have been previously found guilty of a criminal offence and have residency within the territory of X.”

Perubahan terletak pada kalimat “have been previously” ternyata dihapus dan diartikan dalam statuta berbahasa Indonesia dengan “… harus tidak sedang dinyatakan bersalah atas suatu tindakan kriminal pada saat kongres…“.

Jadi apakah hasil verifikasi tidak sah? tentu saja sah!! anda benar sekali. Lihai sekali bukan?

Jadi sekarang jelas kenapa Nurdin Halid lolos. Dia tidak sedang dinyatakan bersalah atas suatu tindakan kriminal pada sat kongres. Dia juga sudah aktif di persepakbolaan nasional dari dulu (Jabat jadi ketuanya aja udah dari 2003). Tidak ada masalah bukan? Cocok. Lolos.

Begitu juga Nirwan Bakrie. Hal yang berbeda dialami George Toisutta dan Arifin Panigoro. Mereka tidak lolos karena tidak mencukupi syarat aktif di persepakbolaan nasional. Ya. Poin yang satu ini memang cukup kontroversial. Dalam satu sisi baik karena dapat lebih menjamin calon untuk lebih mengerti persepakbolaan nasional ketika mengajukan diri. Disisi lain menutup kemungkinan masuknya calon yang benar-benar baru yang “bersih” dari kekotoran rezim sebelumnya.

Memang peraturan FIFA pun tidak sepenuhnya sempurna. Salah satuhnya adalah FIFA melarang campur tangan pemerintah dalam keberjalanan roda organisasi sepakbola dibawahnya. Sudah banyak negara yang di banned FIFA karena melakukan hal ini. Mungkin hal ini yang menyebabkan presiden kita tidak dapat berbuat banyak mengenai kasus di PSSI ini. Atau sekedar memang beliau tidak punya cukup nyali? Kalau benar begitu, saya prihatin. Cukup Prihatin saja. Lebih dari prihatin? Saya bisa apa…

Sekian dulu tulisan dari saya. Mari kita cari jalan masing-masing untuk memperbaiki sepakbola di negara kita tercinta ini.

Referensi:

http://deburanombak.com/2011/01/statuta-pssi/

http://www.pssi-football.com/id/view_news_111082.php?id=2061

http://bola.okezone.com/read/2010/03/31/51/317878/soal-statuta-fifa-nurdin-punya-kartu-truf