Postingan ini menyambung dua postingan sebelumnya yang mengenai Microsoft Club VS Plurk.

===========================================

Di dunia yang penuh dengan persaingan yang sangat cepat seperti sekarang ini, sebuah perusahaan, seorang CEO dari suatu perusahaan, harus sangat jeli dalam mengelola uniqueness dan complementary assets yang dimiliki oleh perusahaan atau produknya. Sudah banyak contohnya, seseorang atau suatu perusahaan, tidak harus melakukan inovasi atau penemuan untuk meraih sebuah kesuksesan. Dengan terus berkembangnya teknologi yang ada, sebuah inovasi atau penemuan yang dimiliki oleh seseorang atau perusahaan dapat dengan mudah (atau mungkin juga tidak mudah) disanjung (baca:ditiru) oleh orang atau perusahaan lain.

Mari sejenak kita bahas terlebih dahulu apa itu uniqueness dan complementary assets.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Profesor Jason Davis dalam kuliahnya di MIT Sloan School of Management menjelaskan bahwa:

Uniqueness : Controlling the knowledge generated by an innovation: being the only game in town

Complementary Assets : Controlling the assets necessary to exploit the knowledge generated by innovation

Dari penjelasan singkat di atas dapat diketahui bahwa mengelola uniqueness berarti mengelola pengetahuan yang dihasilkan dari inovasi itu sendiri. Dalam kasus Microsoft Club VS Plurk beberapa diantaranya adalah konsep, source code, dan disain. Uniqueness itu sendiri dapat berasal dari beberapa sumber, diantaranya adalah:

# Perlindungan akan kekayaan intelektual

Hal ini dapat dilakukan dengan cara mendaftarkan inovasi pada patent atau copyright dan sebagainya. Dengan metode ini maka (seharusnya) seseorang atau perusahaan dapat mengelola siapa saja dan dalam jangka berapa lama pihak lain dapat menggunakan (juga) inovasi mereka serta dapat menuntut pihak lain yang menggunakan inovasi mereka tanpa izin.

# Kerahasiaan

Hal ini dapat dilakukan dengan menyimpan rapat-rapat “rahasia” dari inovasi yang dimiliki oleh orang atau perusahaan tersebut. Biasanya pegawai yang bekerja di perusahaan tersebut, diharuskan menandatangani kontrak untuk tidak menyebarkan “rahasia” dari inovasi tersebut.

#Kecepatan

Hal ini yang belakangan ini banyak dipakai oleh perusahaan bertipe technology-driven. Mereka menjaga uniqueness yang dimiliki dengan melakukan inovasi terus menerus secara cepat sehingga kompetitor atau pihak lain tidak mampu mengejarnya. Tentu saja hal ini cukup sulit dan memerlukan sumber daya yang sangat berkualitas.

Dari penjelasan singkat di atas juga dapat diketahui bahwa mengelola complementary assets berarti mengelola aset-aset yang diperlukan untuk “mengeksploitasi” inovasi tersebut. Singkatnya adalah mengelola aset-aset yang menjadikan inovasi tersebut menghasilkan uang, walaupun inovasi yang ada belum tentu unik.

Mengelola complementary assets ini dapat dibagi menjadi dua bagian:

# Hal-hal yang dapat dilakukan

Yang termasuk di dalamnya adalah kompetensi dalam kemampuan manufaktur dan keahlian sales and service.

# Hal-hal yang dimiliki

Yang termasuk di dalamnya adalah sumber merek dagang (brand name), saluran distribusi, dan hubungan dengan pelanggan.

Perusahaan yang sukses harus dapat mengelola agar kompetensi menghasilkan sumber dan juga sebaliknya.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Sekarang, izinkan saya untuk berbicara mengenai keterhubungan antara pengelolaan kedua hal tersebut dengan dunia kita (IT). Jika menilik dari penjelasan di atas, sesungguhnya bisnis di dunia kita sangatlah kompleks. Sifat uniqueness yang dimiliki oleh bisnis di dunia kita sangat sulit untuk dikelola. Hal ini disebabkan dengan canggihnya teknologi yang ada, makin sulit kita menjaga (menyembunyikan) dan makin mudah pula kompetitor untuk mengetahui kerahasiaan yang ada pada inovasi yang kita miliki. Hal ini dibuktikan dengan mampunya Developer Microsoft Club untuk mendapatkan kode-kode yang digunakan oleh Plurk (walaupun sebagian telah dibagikan sebagai teknologi opensource).

Ya, kita mungkin dapat memanfaatkan Perlindungan akan Kekayaan Intelektual. Tapi dengan berbeda-bedanya peraturan akan perlindungan tersebut di berbagai negara, tidak sempurnanya peraturan tersebut, dan sebagainya, bisa-bisa kita malah “disulitkan” dalam pengurusan perlindungan tersebut. Mungkin satu-satunya cara yang dapat kita lakukan adalah dengan Kecepatan. Tapi seperti yang telah saya sampaikan di atas, diperlukan sumber daya yang sangat berkualitas untuk melakukannya. Dengan begitu, kita dapat “mendikte” pasar dan arah inovasi.

Mengenai complementary assets mungkin akan saya bahas kemudian. Namun pada postingan kali ini, saya lebih menekankan akan pentingnya pengelolaan uniqueness dari suatu perusahaan. Setiap perusahaan harus memastikan hal tersebut telah terkelola dengan baik. Dan sudah menjadi kewajiban seorang CEO lah untuk menjamin keberlangsungannya dijalankan oleh semua elemen dari perusahaan yang dipimpinnya.

Ambil pelajaran dari setiap kejadian di sekitar kita.