yeeeah…

Pada postingan kali ini, saya akan menceritakan ttg kegiatan yang (mau-tak-mau) saya lakukan dalam liburan kali ini. Yups. Benar sekali tebakan anda. Kegiatan tersebut adalah kegiatan-yang-pada-judul-postingan-ini-diapit-oleh-tanda-(-dan-) a.k.a KP atau Kerja Paksa eh Praktek.

Anda tidak tahu apa itu KP? Well, hmm, gmana jelasinnya yah? Oh ya, berhubung KP ini adalah salah satu mata kuliah di ITB, saya akan mencoba menjelaskan berdasarkan situs mata kuliah tersebut di IF.

“KP adalah mata kuliah yang berkode IF40K1 (mungkin udah berubah mengikuti perubahan kurikulum) yang memiliki tujuan agar mahasiswa dapat mengenal dunia kerja (interaksi dalam dunia kerja dan penerapan ilmu yg diperoleh di dunia kerja) serta mampu bersikap profesional dalam dunia kerja.”

Oke, cukup sekian penjelasan awal tentang KP-nya. Sekarang kita masuk ke bagian ceritanya. Untuk memudahkan, maka cerita saya akan saya bagi menjadi 2 bagian, masa pra-KP dan masa KP:

Masa Pra-KP

Yah, seperti halnya yang dilakukan oleh pemuda-pemudi IF pada umumnya pada masa ini, tentu saja saya memenuhinya dengan melakukan pencarian tempat KP.  Yah, mungkin sedikit berbeda dengan tim-gay-bali 1 yang beranggotakan Camoksangketuaangkatan, Tonykayaraya, dan tepan yang pada masa ini memiliki kegiatan tambahan yaitu membuat spesifikasi yang cocok untuk kosan yang akan mereka tempati yang sesuai dengan “kriteria” mereka.

Sebenernya pada masa ini, kegiatan yang saya lakukan tidak banyak. Jika mau diibaratkan dengan sepakbola yang memiliki waktu 90 menit, praktis di 2×45 menit tersebut saya hanya berleha-leha. Hal tersebut dikarenakan adanya informasi dari anggota kelompok KP saya yang beranggotakan Agus sipemilikgelasBRIsatu2nya, Tito sipenglajunangagah, dan saya sendiri tentunya tentang adanya link di suatu perusahaan minyak terkemuka yaitu Exxon Mobile.

logo Exxon Mobile

logo Exxon Mobile

Nah, itu dia, berhubung udah ada satu kata yang sangat mujarab yaitu link, alhasil kami praktis hanya berleha-leha dan membayangkan akan melaksanakan kerja praktek di perusahaan internasional ini. Ternyata, emang mungkin kita g boleh leha-leha, setelah kita mengirimkan seluruh persyaratan, hanya satu dari kami bertiga yang diterima kerja praktek. Yah, karena ke-visioneran-nya dengan teorinya yang berbunyi “wanita adalah inhibitor” Agus berhasil “menyingkirkan” saya ama titz. Namun karena sifatnya yang setia, baik terhadap teman baru maupun kepada teman dari kecilnya, diapun menolak penerimaan itu dan memilih mencari tempat KP yang lain bersama-sama. Hidup Agus!!!

Hal ini tentu saja membuat kami panik. Kenapa panik?? Karena kami sudah menghabiskan waktu 2×45 menit yang kami punya untuk berleha-leha. Hufff, untungnya sang “wasit” cukup bijak. Kami diberi injury time yang cukup untuk mencari tempat kape yang lain.

injury time menit 1

Kembali dengan pergaulannya yang luas, saudara agus kembali menawarkan satu tempat lagi yang pasti menerima kami bertiga. Well, berbeda dari sebelumnya, kali ini tempatnya di Padalarang yaitu PT Sanbe Farma. Setelah melalui perjalanan dan penipuan-jarak-10-menit yang cukup melelahkan, akhirnya kami sampai di gedung, err, pabrik tersebut.

Sanbe Farma

Sanbe Farma

Di sini kami bertemu langsung dengan kepala ITnya yang menjamin kami pasti diterima tapi tetap harus dengan prosedur birokrasi. Hal ini cukup membuat kami lega. Karena paling nggak, kami sudah memiliki tempat kape yang tetap.

Pulangnya kami mengobrol2 dan mengambil kesimpulan:

  1. Sanbe Farma letaknya lumayan jauh dari bandung (kalo jalan kaki ato naik motor). Jadi kalo saya g masuk kerja, berarti semuanya gak masuk.
  2. Kita masih pengen tempat KP di Jakarta. Jadi kita masih akan mencari tempat KP.
  3. Sanbe Farma langganan majalah yang isinya, errr, well guys, you must believe it, tentang ayam semua ampe agus kegirangan.

injury time menit 2

Sembari mempersiapkan ujian akhir, kami pun masih mencari-cari tempat KP yang berlokasi di jakarta. Sudah mengirimkan email ke pssi, tapi g dibales. Sempet kepikiran buat gabung geng IBM yang isinya Riga, Adi, Nur, Tami, Obie, Indra, Wulan, Putut, Naila (ada yang g kesebut g ya?) tapi g jadi.

Akhirnya, perasaan galau yang kami rasakan saat itu terobati oleh kabar yang dibawa oleh bapak saya. Kabarnya adalah kita bisa nge-apply KP di BRI pusat yang kemungkinan besar bakal diterima. Hal ini sontak langsung memberikan angin segar kepada kami bertiga. Kami pun langsung mengontak nomor yang dapat dihubungi dan membuat janji dengan orang tersebut.

injury time menit 3

Dapat disebut juga hari-saat-kami-bertiga-plus-obbie-ke-jakarta-untuk-menyerahkan-surat-keperluan-pengajuan-kape. Namun karena kepanjangan, kita sebut saja injury time menit 3.

Keputusan kami untuk pergi ke jakarta saat itu cukup dilematis. Karena pada hari itu juga dilaksanakan kuis SBD. Namun setelah ditimbang dengan taruhan harus kape di padalarang kamipun merelakan kuis tersebut.

Sesampainya di sana, kami pun langsung naik lift menuju ke ruangan tempat Bu I***e (orang yang sangat membantu kami dalam proses pengajuan KP ini. Nama disamarkan untuk kebaikan semua. Selanjutnya akan kita sebut dengan Bu I) bekerja.

agus dengan setia nge-millie...

agus dengan setia nge-millie...

Namun apa mau dikata, ternyata Bu I yang sibuk ini lagi di luar kantor dan meminta untuk menitipkan berkas2nya di sekretarisnya saja. Dengan sedikit agak kecewa, kami pun menitipkan surat2 kami (yang ternyata masih di dalam amplop Exxon) ke sekretaris tersebut. Kami pun turun dengan perasaan kecewa. Sebelum meninggalkan gedung BRI untuk menuju traktiran-nyokapnya-agus di Senayan City, saya meng-sms bu I lagi.

Ketika mobil kami berada di bunderan patung pemuda, tiba-tiba handphone saya berbunyi. Ternyata dari bu I. Dari percakapan saya dengan beliau akhirnya diputuskan kami akan balik ke gedung BRI untuk langsung bertemu beliau (yey. dia bela2in buat balik ke kantor dulu). Sesampainya di sana, kami dibawa langsung ke bagian TSI (this is where we work right now) ketemu wakil divisi tersebut. Dari sini ternyata kami harus dapet surat dari bagian Corporate Secretary (CS, bukan Cleaning Service). Alhasil kami pun (kembali di antar oleh bu I) menuju bagian CS tersebut. Setelah bu I mengobrol2 sebentar dengan pak E maka kami akhirnya di terima untuk melakukan kerja praktek di BRI. Horay… Oh, Nikmatnya motong birokrasi… fufufu…

Setelah itu kami pun keluar gedung dengan kepala tegap karena menyandang status baru… Mahasiswa Kerja Praktek Bank Rakyat Indonesia Pusat…

BRI

Dan karena semangat 45 Jendral Sudirman yang kami miliki, resmilah kami menjadi SudirBoys…

Jendral Sudirman, Inspirasi Kami...

Jendral Sudirman, Inspirasi Kami...

Setelah itu, berhubung kami sudah janji dengan nyokapnya Agus, terpaksa (padahal emang pengen) kami menuju Senayan City. Di sana, seperti yang telah dijanjikan, kami pun ditraktir sama nyokapnya Agus di Senayan City. Di sana selain ditraktir makan, kami pun di traktir bread talk sebagai bekal di mobil. Disinilah terjadi tragedi salah-ambil-roti-yang-dikira-kecil-ternyata-rotinya-nyambung2-panjang-kayak-ular yang melibatkan teman seperjalanan kami Obbie hadrian.

Tak puas dengan traktiran tersebut, kamipun memutuskan untuk “mampir” ke Blenger Burger. Masing-masing dari kami dengan “sopan” memesan “hanya” minimal 2 buah.

blenger

blenger2

tidak lupa saya sertakan bukti-bukti otentik.

barang bukti 1

barang bukti 1

barang bukti 2

barang bukti 2

ingat, foto ini diambil pada saat teman2 IF lainnya sedang menghadapi kuis SBD dan tubes yang saya sendiri sudah lupa apa itu saking banyaknya. fufufu…

Full time gan

Sekian dulu postingan kali ini. Berhubung udah panjang, ntar nyambung ke postingan selanjutnya…

Mengikuti film (sinetron) Ketika Cinta Bertasbih, to be continue