Ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di bumi ganesha ini, yang kulihat hanyalah satu warna. Warna itu adalah warna biru kehijauan. Ya, itu adalah warna almamaterku yang baru saja kumasuki. Walaupun warnanya tidak “setenar” warna kuning milik almamater tetangga, tapi bagiku, bila memakainya, akan terlihat jauh lebih membanggakan.

Kulalui hari-hari pertamaku di bumi yang baru bagiku ini. Aku berjalan ke dalamnya sembari kubukakan mataku. Lebar-lebar. Ke segala penjuru arah. Ada satu hal yang menarik bagiku. Hal yang sebelum aku memasuki lebih dalam ke bumi ganesha ini, tidak kulihat ataupun kusadari. Ternyata bumi ganesha ini tidak hanya memiliki satu warna. Ketika kubukakan mataku ke angin kiri, kulihat warna hijau, warna biru laut, warna biru gelap, warna biru langit, warna hijau gelap menghiasi mata barat. Ketika kubukakan mataku ke angin kanan, kulihat warna biru, marun, hijau, kuning menghiasi mata timur. Dan ketika aku berjalan lebih dalam lagi, kulihat warna merah, warna kuning, warna hitam, warna oranye dan lebih banyak warna lagi memperindah bumiku.

Aku begitu bersemangat. Begitu bersemangat melihat warna-warni dari almamaterku ini. Warna-warna yang menyadarkan aku, bahwa apa yang aku yakini selama ini itu salah. Keyakinan bahwa bumi ganesha ini hanya memiliki satu warna terubuhkan setelah aku melihat warna-warna itu. Keyakinan itu tergantikan oleh keyakinan baru. Keyakinan yang sampai sekarang masih aku yakini. Ya, almamaterku tidak hanya memiliki satu warna. Tapi semua warna itu berpadu untuk menghasilkan warna yang satu, yaitu warna ITB.

Aku kembali berjalan lebih luas di bumi ganesha ini. Dan dalam perjalanan itu, Ketika aku berada di suatu tempat di dekat tugu yang bernama Soekarno, ketika aku berada di suatu tempat yang di dekatnya terdapat sebuah kolam yang didasarnya terdapat gambar yang menyerupai tanah airku, di suatu tempat yang di suatu bagian di dindingnya tertulis Labtek V, akhirnya kusadari, ada satu warna yang siap menyambutku. Warna hijau tua. Warna yang memang menyatukan orang-orang sepertiku untuk berkumpul. Warna yang memang menyatukan orang-orang sepertiku untuk bergerak bersama. Warna yang memang menyatukan orang-orang sepertiku untuk berkarya bersama.

Aku pun memasuki warna itu. Perlahan tapi pasti, warna milikku sendiri berkembang seiring dengan warna hijau tua itu. Perlahan tapi pasti, warna ku pun ikut memperindah warna hijau tua itu. Dan tanpa terasa, sudah hampir dua tahun aku menikmati hari-hariku di dalam warna itu. Sudah hampir dua tahun pula warnaku semakin menghijaukan warna hijau tua itu. Dan sekarang, aku berada di suatu masa dimana aku harus menentukan langkah warnaku. Akankah aku akan semakin memberikan warnaku untuk hijau tua itu? Ataukah aku akan sedikit demi sedikit memudarkan warnaku dan membiarkan warna lain menghiasi hijau tua itu? Mungkin itu hanya dua pilihan. Tapi percayalah, itu bukan pilihan yang mudah bagiku. Dan aku masih meragu…

Advertisements